Ziaroh
kubur adalah datang kemakam dengan niat dan tujuan mendoakan orang yang telah
wafat, agar segala dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan selama hidup
didunia, diampuni oleh Alloh swt, segala amal ibadahnya diterima oleh Alloh.
Tujuan
berziaroh banyak macamnya, diantaranya tadakkur, tabarruk seperti yang telah
disampaikan oleh Al-Imam Ghozali dalam kitab Ihya’nya;
بيان زيارة القبور والدعاء
للميت وما يتعلق به زيارة القبور مستحبة
على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين
لأجل التبرك مع الاعتبار وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن زيارة القبور ثم
أذن في ذلك بعد حديث نهيه عن زيارة القبور ثم أذنه في ذلك أخرجه مسلم )إحياء علوم
الدين الجزء : 4 الصفحة : 490(
Kesimpulannya
ziaroh kubur hukumnya sunah bila tujuan tadzkur yaitu dengan berziaroh kita
ingat pada mati, ada yang tujuannya tabbaruk seperti berziaroh ke makam para
wali dengan harapan kita dapat barokah beliau.
Pada
awal islam datang, Rosululloh Saw melarang umatnya berziaroh kubur karena pada
waktu itu iman orang-orang muslim masih lemah, sehingga dikhawatirkan akan
menyembah kuburan, berbuat kemusryikan, dengan cara meminta-minta pada orang
yang sudah mati yang diziarohi.
Setelah
dirasa umat islam sudah kuat imannya, maka Rosululloh Saw menganjurkan ziaroh
kubur. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Shohabat Ibnu Mas’ud.
وعن ابن مسعود رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله تعالى عليه
وآله وسلم قال: «كُنْتُ
نَهَيْتُكُمْ عَـنْ زِيَارَةِ القُبُورِ فَزوروا القُبُورَ، فَإِنّهَا تُزَهِّدُ
فى الدُّنْيَا، وَتُذَكرُ الآخِرَةَ » رواه ابن ماجه.
Diriwayatkan
dari shohabat Ibnu Mas’ud, Rosululloh Saw bersabda: aku pernah melarang kalian
untuk Ziaroh kubur, maka {sekarang} ziarohlah kalian semua, karena sesungguhnya
ziaroh kubur bisa membuat hidup {menjadi} zuhud [alias menjauhi dunia]
dan bisa mengingatkan akhirat.
Berangkat dari kalimat فَزوروا القُبُورَ، {berziarohlah
kalian semua} ulama’ sepakat berpendapat boleh berziaroh bagi setiap
kaum laki-laki dan perempuan, karena kalimat tersebut global yakni umum
tidak khusus pada kaum laki-laki. Dan hukum ini berdasarkan hadis
رَوَى اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ حَدِيثَ المرأةِ التي كانَتْ تَزُورُ قَبْرَ
صَبِيٍ لَهَا وَتَبْكِي فَلَمْ يَنْهَهَا صلى الله عليه وسلّم، عَنْ زِيارتِهاَ وَاِنَّماَ
قَالَ لَهاَ: اِتَّقِي وَاصْبِرِي وقال لها:«إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ
الأُولَى».
Diriwayatkan oleh imam Bukhori, muslim : Rosululloh
pernah menjumpai seorang wanita yang yang menziarohi kuburan anaknya, dan dia
menangis didekat kuburan, sikap rosululloh menyikapi wanita tersebut tidak
melarang. akan tetapi rosululloh menyuruh اِتَّقِي
وَاصْبِرِي {bertakwalah
pada alloh, bersabarlah} sesungguhnya
sabar itu sabar ketika tertimpa musibah yang mendadak.
Dari
hadis diatas bisa disimpulkan ziaroh bagi orang wanita hukumnya boleh,
mengingat rosululloh tidak melarangnya.
Tapi
oleh ulama’ fikih tentang ziarohnya para wanita diperinci melihat motiv dan
pekerjannya seperti yang siterangkan dalam kitab I’anatut Tholibin.
إعانة الطالبين
الجزء 2 ص 142-143
) و ) يندب ( زيارة قبور لرجل ) لالأنثى فتكره
لها نعم يسن لها زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم وكذا سائر الأنبياء
والعلماء والأولياء ( قوله لالأنثى ) لبعض بالمفهوم ومثلها الخنثى ( قوله فتكره )
اي الزيارة لأنها مظنة لطلب بكائهن ورفع أصواتهن لما فيهن من رقة القلب وكثرة الجزع
وقلة احتمال المصائب وإنما لم يحرم. قوله نعم يسن لها زيارة قبر النبي صلى الله
عليه وسلم أي لأنها من أعظم القربات للرجال والنساء.
نهاية الزين ص 162
ويندب زيارة قبور المسلمين -
الى ان قال- ويكره زيارتها للنساء والخنائث هذا فى غير زيارة سيدنا محمد صلى الله
عليه و سلم اما هى فلا تكره بل تكون من اقرب القربات للذكور والاناث . وينبغى
ان تكون قبور سائرالأانبياء والأولياء كذلك كما قال ابن الرفعة والقمول . ومحل ذلك
اذا أذن الزوج او السيد او الوالى اهـ
Kesimpulannya
Hukum ziaroh bagi wanita sebagai berikut:
Bila
wanita berziaroh ke makam Rosululloh, para nabi, para wali dan orang-orang
sholeh maka hukumnya sunah.
Jika
yang diziarohi bukan makam para nabi, para wali dll. Maka hukumnya makaruh
Catatan :
Hukum sunah diatas, bila tidak terdapat perkara yang diharomkan seperti
ikhtilat, bersolek, tidak dapat idzin dari ortu atau suami bagi wanita yang
berstatus istri. Bila terdapat parkara yang diharomkan maka menjadi harom.







0 komentar:
Posting Komentar